May 22, 2012

Neverending Story..

People should really stop making me angry..

When I got angry, I turn to the dot com and buy plane ticket without full consideration..
Then, they get angry at me cus I'm buying the ticket without letting them know..
Then, their emotion pitch on my nerve and make me angry more..
And I buy another ticket..
And they get even madder..
And I buy another ticket brutally..
And they .... ah, it's a never ending story.. *sigh*

So, why do they get mad at me buying ticket when they know they start the pitch at the first place?
HA!!!

Kekekeke.. :p

Eeeeh, kemarin saya main-main sama laphotocabine. Gara-gara liat blognya Mbak Amesh. Hihihi. Just try it here.

Senyum dulu ah.. :)



UPDATE: Barusan ngitung berapa hari bakal tidak masuk kuliah (bukan, bukan bolos, cuma 'tidak masuk kuliah' saja :p). Satu semester, boleh tidak masuk 4kali per mata kuliah. Dengan perjalanan Thai-India dan Philippine maka Senin saya baru akan tidak masuk sekali (yang mana Senin kayaknya libur kuliah deh. -____-), Selasa 3kali, Rabu Kamis Jumat masing-masing 4kali. Huaaaaa.. Sudah habis masa tidak masuknyaaaa. Huaaaa... *nangis gerung-gerung* Piye ikiii?? :(

May 21, 2012

Declutter...

Saya suka kata 'declutter'. Declutter artinya menurunkan level clutter. Clutter artinya penuh. Nah jadi saya sih mengartikan declutter itu sebagai kegiatan bersih-bersih. Hihihi. *njomplang* Saya meyakini kalau (mulai dari) tempat tinggal saya bersih, maka hidup saya jadi lebih nyaman. Kalau tempat tinggal saya riweuh dan penuh, saya pasti jadi gampang emosi. Hihihi. Saya sendiri tipe orang yang baik-baik aja membuang sesuatu. Tapi untuk yang sedih 'membuang sesuatu' maka mari diganti istilahnya jadi 'memberikan supaya lebih berguna'. TSAH!! *kitik2Silka*

Dua hari lalu saya menyempatkan membereskan lemari saya yang yasalam penuhnya. :p. Saya punya kebiasaan untuk mengeluarkan semua isi lemari tiap dua bulan sekali untuk sortir mana baju yang masih dipakai dan mana yang engga. Lalu disusun ulang secara rapi. Enak aja gitu liatnya. Hehehe. Baju yang sudah tidak dipakai langsung saya plastikkin. Dulu saya kasih mbak ART (yang membuatnya susah pas pulang kampung karena baju dari saya lebih berat dari bahkan kopernya dia. Hahaha).Sekarang saya kasih ke satu satpam favorit saya, untuk keluarganya. Lebih berguna kan. Semoga saja. Amin.

Saya lupa motret lemari saya sebelumnya, tapi kalaupun dipotret, saya ga yakin mau publish di sini. Kekeke. Tapi inilah lemari saya sekarang. Rapi nan caem. Kecuali bagian tas di kiri bawah yang belum sempat saya beresin. -_____-" Lemarinya sudah rapiiii, isinya sudah menyedikiiiittt, ngambil atau naro barang jadi mudaaaah, masih ada space lumayan banyaaaaak, bisa beli baju lagi. Okesip. Mari shopping!! HLOH?! :p

Senyum dulu ah.. :)


PS: And yes, saya juga almost tiap enam bulan sekali nurunin semua koleksi sepatu saya untuk disortir (most of them are Moonaddict. Yaeyalaaaah :p). Yang sudah ngga saya pakai, sekali lagi, jatuh ke keluarga satpam kosan saya itu. And guess what?? Kaki saya size 37-38 dan itu dipakai oleeeeeeh ANAKNYA DIA YANG MASIH SD!!! Buset dah anak sekarang kakinya gede-gede beneeeerrr... :)))

May 19, 2012

Membuka atau Menutup?

Saya punya satu cerita kisah nyata (yaiyalah) tentang teman saya dan adiknya. This has been my fave. :) Nama teman saya samarkan ya. Sebut saja kakaknya namanya Narita dan adiknya namanya Sasha.

Yang temenan duluan sama saya Naritanya. Dari pertemanan itu, saya mengetahui gaya hidup Narita yang nyerempet-nyerempet bahaya. Ngga ngga, dia ngga pake narkoba kok, cuma - ehem -, dia hanya pelaku - ehem - sex bebas. Apipiuuuuww!! Piuwiiit!! *hihihi* Dan kelakuannya emang dodol banget. Dari mulai tutumetutu (gee, kata ini keluar lagi..hahaha) sama pacarnya, sampai kemudian dia single dan mengiyakan ajakan tutumetutu orang di club lalu teman mainnya dan gongnya: seseorang tak dikenal yang 'menawarnya' di pinggir jalan. Pas dengar cerita yang itu, saya dan teman yang lain langsung speechless. Bengong aja gitu. Hihihi. *pentung Narita!!* Dia ga pernah gereja, dia selalu pulang pagi, dia ga peduli dia punya hutang sama teman, yang penting ajojing jalan terus. Dan iya, saya pake kata ajojing, silahkan salahkan Mbak Wulan yang menyebarkan virus penggunaan kata ini. :))))

Setelah kira-kira setaunan temenan sama Na, kemudian saya dikenalin sama Sasha, adiknya. Ya kenal biasa aja karena waktu itu kami nonton bareng. Kalau Sasha, kebalikan dari Na. Sasha ini walaupun juga ceriwis dan asyik, tapi tingkahnya lebih kalem dari Na. Rajin gereja, rajin doa, kerja dengan baik, ga nakal, dan yang pasti, bukan pelaku sex bebas. Hehehe. Saya malah curiga Sasha masih perawan deh. Uhuk. Lah emang kenapa? Gapapaaaa. Lalalala. Yeyeye. Kekekeke. *peace Sha*

Perbedaan lainnya, Narita diberkati pendapatan nominal yang luar biasa besar, sedangkan Sasha beneran pas-pasan. Ya ampun saat itu saya kerja jadi guru cuma ngajar enam jam per hari masa gajinya lebih besar dari dia yang kerja sebagai PR officer, kerja (more than) delapan jam per hari?? Plus lembur ga dibayar. Bagemana banget deh sedangkan yang dia PR-in itu tempat lifestyle aduhai dengan harga yang bikin saya kejep-kejep liatnya. Hihihi. Jomplang lah. Anyhoo, mereka saling sayang banget - Narita sama Sasha maksudnya, bukan Sasha sama tempat kerjanya. -___-

Kejomplangan itu kemudian berubah secara mendadak, dimulai dengan Narita yang tidak menjawab BBM saya secara cepat, kemudian ketika membalasnya, dia mengatakan maaf tadi ga bisa balas karena sedang kebaktian. JENG JENG!! *kilat menyambar* *saya ucap syukur* Lalu setelahnya, Na ga ngoyo clubbing tiap malam lagi, jadi berubah alim gitu, kegiatannya kerja dan kebaktian. Kerja dan kebaktian. Luar biasa sekali bukan!!

Usut punya usut, ternyata ada satu hal yang kemudian membuatnya kembali 'meminta' ke Tuhan. Hal itu adalah karena ................. Sasha sakit dan hasil labnya HIV. JLEGER!!! Kalimatnya Na saat itu yang saya ingat adalah "Kalau gue yang kena, gue masih bisa terima Buy. Loe tau lah gaya hidup gue kayak apa. Tapi ini Sasha. Yang gue sendiri ga yakin dia pernah liat penis. Gimana coba tu?!" (Pardon for my language, tapi itu kata yang ilmiah lhoooo. Hehehe). Na terpukul banget. Sasha adiknya yang paling kecil, yang paling dia sayang, yang paling kalem dan 'lurus' hidupnya, and yet, dia dikatakan kena HIV. Bagemana lah itu hancurnya hatinya. Na bilang, masih mungkin ada perubahan, karena bisa dicek darahnya enam bulan lagi dan baru ketauan benar positif atau engga. Maka dia rajin 'minta' ke Tuhan, biar hasilnya negatif. Dia ga sanggup kalau adiknya sakit. Saat itu, terlihat sekali gimana Na sayang sama Sasha. Dia benar-benar berusaha segala cara untuk jaga Sasha.

Di tengah carut marut hatinya Na itu, lalu Na cerita, ada omongan tantenya (yang kemudian saya favoritin juga ni omongan). Omongannya adalah:

"Narita harus rajin ibadah dan doa untuk Sasha. Selama ini hidup kamu enak dan berlimpah rejeki karena selalu didoakan Sasha. Sasha buka jalan rejeki untuk kamu. 
Dan kenapa Sasha sendiri hidupnya susah terus? Karena kamu tutup jalan rejekinya Sasha."


JELEGERRRR!!!

Saya langsung terdiam.
Somehow....
It's true....
:(

Saya langsung berpikir, apakah saya sudah jadi jalan pembuka bagi rejeki orang dengan baik ya? Atau saya malah menutupnya? Dulu, kalau doa, saya selalu HANYA mendoakan kepentingan saya sendiri. Untuk kesehatan saya, rejeki saya, kebaikan hidup saya. Tapi setelah tau omongan tantenya Na, saya jadi kepikir untuk juga mendoakan orang lain. Mamah, Papah, Bapak, Kak Ari, Mbak Citra, cicuw, luluw, tataw, pipiw, yaaaa orang-orang yang dekat sama saya lah.

Dan juga jadi ingat, dulu pas pertama ikut misa, saya sempat ngikik karena ada doa untuk Sri Paulus, doa untuk negara, doa untuk pemimpin, doa untuk ibu ini ibu itu anak ini anak itu, doa kelancaran UAN segala dimasukkin. Hihihi. It felt funny!! *maap ya Tuhan, saya ngikik* Tapi sekarang saya makin sadar, memang harusnya begitu ya. Pun, doa anak yang saleh, dalam Islam, adalah pembuka pintu ke surga bagi orangtuanya. Jadi, nambah beberapa detik dalam doa saya, semoga bisa melapangkan karpet merah orang-orang terdekat saya ke surga. Kalau belum surga di 'sana' ya surga dunia dulu. Hehehe. Dan moga-moga orang yang baca ini bisa kemudian ikut mendoakan orang-orang tersayangnya, supaya jadi pembuka rejeki. :) Amin.

Jadi begitu lah ceritanya dear pembacah. Moga-moga berguna.
Kesempurnaan hanya milik Allah semata dan ketidaksempurnaan milik kita semua. Sampai bertemu kembali di Dorce Show show show!!! *akhirannya merusak suasana* Hihihi. *peace*

Senyum dulu ah.. :)

May 15, 2012

Dear Tante D..

Saya melihatnya pertama kali ketika sedang turun eskalator menuju ke ATM. Sedikit tercengang melihat alisnya yang mencelat naik dan kakinya yang kurus kecil ditopang dengan sepatu berhak tinggi. Gaun mini yang dipakainya tidak menjadi masalah bagi saya. Ia memiliki tubuh ramping dan sejuta alasan untuk memakai gaun mini seperti itu. Ia berjalan santai dan kemudian saya berlalu.

Kali kedua saya bertemu dengannya ketika sedang jalan dengan Sam di depan sebuah toko donat berinisial D. Saya berjalan sedikit di depan Sam ketika kemudian saya lihat ia, Tante D, sedang duduk sambil menghisap asap Marlb*ro-nya, menaikkan alisnya dua kali dengan ceria ke arah saya. Saya bingung. Kemudian menengok ke arah Sam, yang langsung cepat menyamai jalan saya. Ketika kami sudah melewatinya, Sam, sambil bergidik geli, mengatakan tante tadi menggodanya. Saya tertawa. Ternyata Sam yang digoda, bukan saya. Hihihi. Saya terlalu GR rupanya. *tepokjidat*

Beberapa kali setelahnya, ketika saya berbelok melewati toko donat berinisial D itu, saya sibuk mencari dia. Dan dia selalu ada. Atau tidak ada, beberapa kali, tapi seringnya ada. Kadang dengan lelaki berjas hitam berperut buncit. Kadang dengan anak muda berpolo shirt dan sepatu keds. Ia masih sama, dengan gaun mini dan rokoknya. Duduk di tempat yang sama juga.

Ketika kemudian saya menceritakan di kelas, ternyata Pak Irwan memiliki mata yang sama. Mata yang juga sering memerhatikannya. Tinggal Winsky dan Anggun saja yang belum pernah melihatnya. Sayang sungguh sayang. Keberuntungan belum ada di pihak mereka. Hihihi. *peace*

Siapa Tante D (let's just call her that)? Apa pekerjaannya? Ia tidak pernah terlihat membawa berkas-berkas. Tidak pun terlihat sedang meeting dengan lawan bicaranya. Terlihatnya malah ia sedang 'meeting' dengan teman lelakinya itu. Pandangan matanya menggoda, gerak tubuhnya menggeliat. Lawan bicaranya selalu laki-laki. Tak pernah sekali pun saya lihat ia bersama perempuan.

Kemarin adalah hitsnya. Saya turun dari parkiran menuju elevator ketika kemudian elevator terbuka dan ia keluar bersama seorang laki-laki bercelana kedodoran, berjaket kebesaran, berkacamata, dan bertingkah grogi. Saya stunned. Mulut saya terbuka. Memerhatikan mereka berjalan bersama dengan santai memasuki sebuah tempat karaoke di lantai 6 gedung tempat kampus saya berada. Saya stunned. Berdiam. Ia terlihat santai melenggang. Apa yang (akan) dilakukannya? Sekali lagi, saya stunned. Terdiam. Lalu tertawa geli, menggelengkan kepala, dan berlalu.

Kemarin malam sebenarnya saya sudah ingin menulis tentangnya. Tapi kemudian saya lupa. Tapi jika post ini saya tulis kemarin malam, mungkin bahasa saya berbeda. Mungkin saya akan penuh gelak tawa menceritakannya. Tapi tidak hari ini. Sore ini saya melihatnya lagi. Di pojok yang sama, di bagian teras sebuah toko donat berinisial D. Dengan dua laki-laki di hadapannya. Satu dengan kaos abu-abu dan satu dengan polo shirt salur kuning abu. Apa yang berbeda kali ini adalah wajah dan tatapannya. Ia tidak centil penuh semangat. Matanya tidak liar melihat ke segala penjuru. Ia diam dengan tatapan menerawang. Hati saya sedikit tercabik jadinya. Apa yang ada di pikirannya ya?

Tadi saya bercerita pada Sam. Sam takut setengah hidup sama Tante D. Seperti halnya Sam takut sama semua teman gay saya. Hahaha. Ia bergidik lagi. Saya, kali ini, diam. Seperti ingin menghibur diri. Bahwa mungkin, dibalik sikap genitnya, sikap menggodanya, alisnya yang mencelat segaris tipis, kakinya yang kurus dengan topangan sepatu berhak tinggi, dan gaunnya yang mini; mungkin ia menyimpan sebuah beban hidup yang luar biasa ya. Beban yang mungkin tidak saya (dan orang lain) mengerti. Mungkin, ia terpaksa menjadi seperti sekarang. Saya tidak pernah tahu.

Dan dalam terawang matanya yang memandang jauh tadi siang, saya cuma berdoa supaya Tuhan menguatkannya. Semoga ia tetap menjadi baik ketika melakukan hal baik. Dan itu saja yang akan dihitung oleh Tuhan. Semoga saja. :)

Maaf ya Tante D kalau selama ini saya sering iseng tengak tengok cari Anda. Maaf juga kalau saya sering memasukkan Anda dalam bahan kicauan saya. Maaf kalau saya sering membuat Anda jadi bahan obrolan saya Anggun dan Winsky. Maaf ya. :) Semoga tante kuat dalam apapun yang sedang ada dalam hidup tante ya. Ah saya jadi sedih jadinya. :( Ya begitulah ya. -___-"

Harusnya kalau saya menceritakan tentang dia tu bisa lucu, tapi tatapan menerawangnya sore tadi mengubah segala persepsi saya tentang dia. Aduuuuh. *gelosor gelosor di aspal* Hiks..

Senyum dulu ah.. :)

PS: Untuk Anggun dan Winsky yang masih penasaran dan bilang no pic = hoax, sayang sungguh sayang, beneran gw ga berani motret orang secara candid. Pernah nyoba sekali motret cowo ganteng di Anomali dan yang ada tu cowo nyadar gw poto dan senyum cengengesan ke gw. Gw kan jadi malu nyooooong. Kaga mau lagih coba-coba candid jadinya. Hihihi. Lagipula ga sopan ah. Makanya kalau mau liat, dateng cepetan, jangan mepet waktu kuliah!! HA!! :)))

May 9, 2012

There I Finally Meet You..

Untuk yang sering membaca blog dan Twitter saya, pasti sudah aware sama Mas Reza atau Mas Eca  yang sering saya sebut-sebut (atau hashtag #masdokterganteng di Twitter). Banyak yang curiga saya memiliki kedekatan lebih dengannya. Menanggapinya, saya cuma ..... ketawa aja. Hihihi.

Jadi siapa kah Mas Eca ini? He was actually ...... MY BUYER!! Bahahaha. Awalnya beli dompet untuk ibunya tapi lalu dari pesan Facebook komunikasi merembet jadi cerita ini itu. Lalu dia pesan ina inu. Jadi terus komunikasi. Sekarang ga pesan pun kami tetap komunikasi. He's kind walaupun kadang tengil dan nyebelin. Kami sering share segala macam hal. Dari awal saya sudah tahu satu hal darinya yang membuat saya merasa aman. Jadi untuk memiliki hubungan lebih dengannya, saya cuma meringis dan ketiwi saja menanggapinya ya. Kami tidak ada hubungan spesial apa-apa selain saya princess and he's my mbok emban. :p

Yang juga tidak diketahui banyak orang, saya belum pernah sekali pun bertemu Mas Eca sebelumnya. Mengetahui segala macam hal tentangnya ya dari komunikasi BBM dan Facebook dan (akhirnya) Twitter.

Nah kemarin, pada akhirnya, kami bertemuuuuu. Ambil jalan tengah, di Jogja, karena kami ingin datang ke perayaan Waisak bareng. Saya, sebagai adik manis nan kurangajar, dengan seenak udel minta dijemput ke rumah eyang. Dia dengan Mas Edi dan paksupir berangkat pagi dari Salatiga (tempat kediamannya sekarang). Menjemput saya kemudian ke hotelnya KaMadja di Malioboro, sekalian numpang pipis. *info penting*

Pertama melihatnya, saya berlari kencang dan langsung diterima tangannya yang terbuka. Kami berpelukan lumayan lama, di pinggir jalan. Penting banget deh dramanya. -___- . Rasanya: Seperti bertemu abang yang sedang sekolah di Jerman dan sudah tidak bertemu selama 4.5tahun.

Setelah itu, Mas Edi dengan baik hati pindah duduk di depan sehingga saya dan Mas Eca bisa ngobrol di belakang. Seharian kami (saya, KaMadja, Mas Eca, dan Mas Edi) bersama. Dalam beberapa momen, saya sempatkan memeluknya erat sambil bilang dengan suara nyaring 'Mas Ecaaaaa..'. Hihihi. Dia si kayaknya malu, cuma mo gimana, pasrah lebih tepatnya. :p

Apakah sesuai dengan bayangan, there you might ask. Sejujurnya, saya tidak punya bayangan apapun tentang Mas Eca. We communicate as if we're in the same town, jadi hanya seperti bertemu teman lama atau sahabat lama. We accept each other as we are, tidak membayangkan pengharapan lain. He's my brother (and it's up to you to mock me on abang-adek relationship, but then I don't know what term to use to express our relationship) and he will always be, thou we're Jakarta-Balikpapan far, or now Jakarta-Salatiga far. Even if we didn't meet yesterday, I don't mind. We're still good. :) I'm uberhappy with what we have. :)

And funny thing, bahkan saya (dan dia) tidak ada keinginan untuk bertanya bagaimana pendapat satu sama lain untuk pertemuan pertama kami. Semua berjalan biasa. Ia sekarang sudah balik berada di Salatiga. Meninggalkan saya, kemarin dulu, di mulut gang masuk rumah eyang dengan sebuah pelukan hangat dan ucapan...

'Terimakasih ya Buy.. Kamu hati-hati.."

Hangatnya, masih terasa. :)

Terimakasih ya, mas. Kamu, juga, hati-hati.. :)

Senyum dulu ah.. :)

*wis wis, ojo podo mellow.. Hihihi..*