Feb 23, 2011

Bantuin donk..Yang bantu kece deh..Hihi..

Haiiiiiiiii...Ratu plinplan kembali.. Hehehe.. *bangga utk hal yang salah*

Jadiiiii, begini temans.. Tentang si proyek tas yang kmrn sudah dengan cengengesannya saya ungkapkan (padahal niat awal mau launching ahir Maret..hihihi), nah ternyata respon di Facebook bagus..Nah tapi ada bbrp hal yang skrg jd bikin saya plinplan..Hehehe..

Di awal, pemikirannya adalah semua tasnya memakai batik tulis. Dengan kombinasi kulit asli baik kulit ular maupun kulit sapi. Dengan begitu, harga yang ditawarkan memang di kisaran 400-800ribu. Sudah murah sebenarnya kalau mengingat bahan yang dipakai. Tapi ternyata beberapa teman menanyakan kemungkinan kalau saya bs membuat dengan harga yang lebih murah, bahan diganti pun tak apa. Melihat koleksi batik saya, maka pilihannya adalah batik cap. Dengan kombinasi kulit sintetis saja. (Ya iya kan? Kalau batik cap tapi pakai kulit asli kan sayang ya kulit aslinya..Hihihi). Kalau dengan spesifikasi kedua, harganya bs turun jadi 200-400ribu.

Jadi bagaimana ya? Bantu saya doooonk. Apakah lbh baik saya tetap dengan pemikiran awal (batik tulis kombinasi kulit asli harga 400-800ribu) atau ikut permintaan pasar (batik cap kombinasi kulit sintetis harga 200-400ribu) atau menyediakan keduanya aja??

Huhuhu..Tolong dibantu yaaaaa..Tolong dibantuuuu..
Yang bantu kece deh.. Hihihi..


Senyum dulu ah (sambil tetep bingung..)

Feb 20, 2011

Indira Soetrisno - Second Collection

Huiiih. Lega rasanya. Setelah sibuk dengan pesanan sepatu dari koleksi pertama saya, akhirnya koleksi kedua ini lahir juga. Sekarang saya bermain dengan kulit sapi. Yum!! Wanginya menyegarkan hati. Bisa deh saya tidur berbalut kulit sapi ini. Hihihi.

Tujuh desain saya keluarkan, lininya masih sama, garis2 keras dan tegas. Here, I present to you, Indira Soetrisno's Second Collection. Smart Bold and Chic.

Alexis

Aubrey

Celine


Kivanka

Agni

Shakira

Jolie
Senyum dulu ah.. :)

Feb 17, 2011

Menangis..Bahagia..

Apa sih yang bisa membuat hidup lebih berbahagia? Lebih berharga?

Bagi saya, penghargaan dari orangtua. Khususnya mamah. Itu yang dapat membahagiakan saya. :)

Oho, jangan salah sangka, orangtua saya adalah orangtua yang demokratis dan tidak pelit pujian. Jadi mereka cukup sering memuji saya, saya tidak sampai haus pujian, namun penghargaan akan mereka lontarkan dengan tulus jika memang hasil karya atau apa yang saya lakukan layak mendapat pernghargaan. Hehehe. Jadi penghargaan itu spesial sifatnya. :)

Sejak saya membangun bisnis sepatu saya empat tahun lalu, saya belum pernah membuatkan mamah saya sepasang sepatu pun. Padahal mamah sudah pernah bbrp kali meminta. Huhu. *jedotinpala* Untuk abang saya pun baru ulangtahunnya kemarin saya membuatkan sepatu untuknya. Melihat wajahnya yang berbinar dan berkata "Whaaaa..bagus banget deeek.." rasanya luar biasa. Dan rasa luar biasa itu kembali saya dapatkan hari ini, sore ini, kali ini dari Bu Jendral, panggilan saya dan abang untuk mamah. Hihihi.

Bbrp waktu yang lalu, seperti biasa, saya obrak-abrik lemari mamah di rumah abang saya. Hehehe. Di dalamnya tersimpan harta karun kain2 tradisional Indonesia. Semuanya didapatkan mamah secara gratis saat mamah bertugas disana-sini. *kl saya tugas kok gada yg ngasih kain ya?? eeeeh, tugas apaaaa Bulaaan???* dan JRENG saya ambil saja beberapa kainnya. Itu kain sudah lama berada di dalam lemari itu dan mamah pun bingung mau diapakan. Jd lbh baik saya ambil dan karyakan donk. *cari pembelaan*

Dari sekian banyak kain, satu kain yang langsung saya ambil dengan penuh sukacita. Kain batik Papua. Hehehe. Baru kali ini saya melihatnya dan terpana. Oh ada batik dari Papua tho..Bagus lagi.. Hehehe. Dua minggu batik itu bertahan di si Obil, lalu saya memutuskan untuk mengkaryakannya menjadiiiiiiiiiiiii TAS..Hehehe. *jadi spoiler deh*


Saya memang sedang ada proyek baru. Memproduksi tas dengan bermacam kain dari seluruh Indonesia. Proyek ini belum selesai maka saya belum woro-woro. Tapi karena ini pantas diungkapkan, maka marilah saya ungkapkan saja. Hahaha. *kembali plinplan*

Nah saat saya mengirimkan foto (okay, Silka protes karena saya menggunakan V utk kata FOTO, jadi mari memakai F saja..hehehe) hasil tasnya, saya deg2an setengah mati menunggu respon mamah. Saya kirim jam5, br dibalas menjelang jam8. Hahaha. Tapi saya langsung menangis bahagia karena mamah langsung bilang bagus dan minta dibuatkan. Dan memberikan ijin saya memakai kain2nya yang lain untuk juga dibuatkan tas. Whaaaaa.. Bahagia rasanya. Bisa membanggakan mamah. :)

Sepanjang jalan pulang td saya masih merasakan keharuan luar biasa. Kata mamah, desain saya bagus. Mamah bilang anaknya ini OHOI...Hehehe. Ingin menangis membacanya. Puji Tuhan saya bisa membanggakan beliau.

Dan malam ini pun menjadi indah. Mengetahui bahwa ada seseorang yang bangga terhadap hasil karya saya. Bangga akan apa yang saya usahakan. Bangga akan apa yang saya lakukan. :)

Tangisan itu tangisan bahagia. Dan senyum yang masih tersungging pun senyum bahagia. :)
Ternyata bangga dan bahagia rasanya bisa membanggakan dan membahagiakan orang lain. :)

Senyum dulu ah..

Feb 15, 2011

Racun Kehidupan..


Setiap orang memiliki kegemaran akan hal2 tertentu. Ada yang suka sepatu ada yang suka tas. Ada yang suka makan ada yang suka berdiet. Ada yang suka akupuntur ada yang suka akupresur. Ada yang suka wafer coklat ada yang suka es krim. Sungguh ini contoh yang sangat subjektif. Hihi. *sambil nurunin cermin..

Saya sendiri tidak mengategorikan diri saya ke dalam satu hal yang pasti. Seperti penyematan saya di post sebelumnya, saya kan misterius, jadi saya tdk bisa blg 'I'm a bag person' karena pada dasarnya saya juga suka sepatu. Saya juga tdk bisa bilang 'I like eating' karena ada suatu masa dimana saya mati2an berdiet karena badan sudah membesar dan semakin begah. Jadi ya begitu. Saya misterius. Dan antara misterius dan rakus itu memang beda tipis. Hihihi. *getokpalabulan

Kali ini saya ingin bercerita tentang racun kehidupan yang sekarang sedang melanda. Saya menyumpahserapahi racun yang sekarang sedang saya nikmati ini. Hiks. Hehehe. Racun ini bernama BATIK. Dudududu..

Saya suka batik memang sudah lama. Dulu, saya hanya suka menciumi koleksi batik mamah saya. Baunya enak, bikin nyenyak tidur. Semakin lawas semakin enak. Hehehe. Nah, sejak saya berkecipak dan mulai melihat batik2 selain sogan (iya iya, saya waktu itu masih pakai kacamata kuda), saya mulai menggila. Dan racun batik ini diperparah ketika saya sudah mulai bereksperimen membuat sepatu dari bahan batik. Setiap lihat batik, JRENG!!, orgasme. Huhu.

Saya jadi mulai belajar berbagai macam motif batik dan asalnya. Dan tingkah polah kelaguan saya makin menjadi. Karena dikasihtahu seorang kakak (yang sudah lebih dulu berkecipak di dunia perbatikan) bahwa kalau beli batik lebih baik yang batik tulis karena itu berarti membantu memajukan pengrajin batiknya juga, saya mulai pilih2. Dulu, semua batik yang murah meriah (baca: 30-40ribu) saya habek, skrg melihat tulisan 'batik cap' saja saya mulai sombong. Apalagi kalau tulisannya 'batik print', wih, dada babaaaay. Hehehe. Boong denk. Saya masih beli kok batik cap. Kalau print sudah tidak lagi, jadi paling engga saya beli yang cap lah. Lumayan ya kak, saya membantu memajukan tukang capnya. (???)

Jadi kenapa saya bisa menyebutnya racun? Racun memang, karena saya kalau lihat batik suka kalap dan langsung membeli. Dan ada harga ada rupa. Batik tulis itu harganya bikin miris hati. Tapi demi melihat proses pembuatannya, saya sadar harganya memang sewajarnya tinggi.

Lalu kini racun ini makin didukung oleh kehadiran jejaring sosial Facebook. Dulu saya sudah sangat jarang membuka Facebook dari komputer karena sudah sinkron ke BB, jadi saya buka dari BB saja. Dan karena asik dengan Twitter, Facebook pun hanya saya buka notifikasinya. Jadi saya ngga liat2 'news feed'-nya. Nah sejak saya diminta mencari batik tulis bakaran Madura oleh teman saya (yang sekarang sedang ada proyek dengan saya), saya malah jadi tahu bahwa pergolakkan batik di Facebook itu cepat sekali berputar. Tren batik juga dapat dilihat dari Facebook. Saya jadi makin rajin membuka Facebook dari komputer lagi untuk mendapatkan gambaran jelas dari batik yang ditawarkan. Dan racun itu melanda, JRENG!!, klik BCA pun sepertinya menyetujui racun yang menyerang saya ini. Hadeuh.

Oh, dan mungkin ini hal yang bikin tertawa. Seluruh batik tulis saya tidak (atau belum) saya gunakan untuk apapun. Yang saya gunakan selama ini (dijadikan baju, sepatu, bantal) hanyalah batik cap saya. Jadi batik tulis itu untuk apa? Oh, untuk saya simpan, lalu terkadang saya buka, saya elus2, lalu saya cium2. Hehe. Wangi malam-nya menghadirkan perasaan senang yang membuncah luar biasa. Uta dulu bingung kalau saya sedang duduk diam, membuka batik dan mulai menciuminya. Sekarang ia ikut menikmatinya. Sambil belajar beberapa motif batik. Hehehe.

Ini racun kehidupan. Tapi racun kehidupan yang sungguh sangat dapat dinikmati. Dan ini racun kehidupan yang makin membuat seseorang hidup. Menimbulkan semangat. Semangat menimbulkan keinginan berkarya. Berkarya menghidupkan manusia. Jadi saya rasa, setiap manusia membutuhkan racun kehidupan semacam ini. :) Yakan yakan yakaaaan. Ya dooooonk. :)

Senyum dulu ah..

PS: Saat saya mencari gambar untuk post saya kali ini, saya menemukan beberapa toko online batik (lagi), dan akhirnya saya membeli batik dr toko2 ini. Hehehe. I know, just that easy. *geleng2 sama diri sendiri

Feb 13, 2011

Bagi saya, Tuhan itu tempatnya di hati..

Ini hal sensitif yang sebetulnya sangat jarang mau saya bicarakan pada orang lain. Apalagi saya tulis di blog. Cuma karena ini mau melegakan hati saya), maka saya tulis juga. Hehe. *plinplan
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dimana sih Tuhan itu? Apa memang ada?

Bagi saya, ADA. Bagi saya, tempatnya di hati saya. Dan karena di hati saya (bukan di hati kita), maka hanya saya yang dapat merasakannya. Kamu pun bisa. Karena kalau kamu mau, Tuhan jg bs ada di hatimu (sekali lagi, mu, bukan kita). Kenapa begitu? Karena bagi saya, kehadiran Tuhan itu adalah suatu hubungan personal. Manusia dengan penciptanya. Dan karena ini personal, coba lah rasakan kehadirannya secara personal, jangan secara rombongan. :)

Secara jujur saya katakan saya bukan umat yang rajin salat lima waktu. Atau rajin ke gereja tiap Minggu. Nah jd agama saya apa? Itulah. Hehe. Mari tidak mengungkapkannya secara spesifik. Karena saya kan misterius. Kikikiki. *dilempar bambu runcing*. Bagi saya, tidak perlu lah orang lain melihat apa yang saya lakukan saat saya merindukanNya. Tidak perlu lah orang lain melihat bagaimana cara saya bersyukur menumpahkan segala cinta untukNya. Tidak perlu lah orang lain melihat saya dari agama saya. Karena sekali lagi, ini personal (dan saya misterius..GLEK!!).

Saya setuju dengan satu kalimat yang ditulis Dewi 'dee' Lestari di blognya, agama itu adalah cangkang, esensi dari suatu agama itulah yang penting. Esensi itu yang bagi saya juga penting. Tidak usah bilang kamu beragama kalau kamu masih membicarakan kenapa ada seseorang yang di KTPnya tercatat beragama Islam namun masuk ke kapel untuk berdoa. Hey, kapel itu rumah doa. Sama seperti masjid. Itu rumah doa, rumah Tuhan. Siapapun berhak masuk kesana dan berdoa. Apapun agamanya. Tidak usah bilang kamu beragama kalau kamu masih meneriakkan "Allahu Akbar" sambil melempar batu untuk sesama. Hey, Tuhan pun sedih melihat kamu melakukannya. Itu bukan cinta kasih yang diajarkanNya. Tidak usah lah. Apa yang kamu lakukan itu menyakiti orang lain. Dan menyakiti agamamu.

Jadi mari kembali ke awal, hubungan manusia dengan Tuhan, bagi saya, personal. Urus saja urusan masing2. Jika ingin berdoa, berdoa lah dengan kesungguhan hati. Walaupun kalian berjamaah (yang mana pahalanya bertambah 27x lipat), tapi jangan juga menghadap secara rombongan. Pusatkan pikiran bahwa kamu maju sendiri ke hadapan Tuhan. Dan jika kamu mengikut misa/kebaktian, bersukacitalah secara bersama-sama dan bersyukurlah secara sendiri. Puji nama Tuhanmu secara pribadi. Itu akan berbeda rasanya.

Dan karena hubungan ini personal, apa perlu orang lain melihat saat kamu sedang salat? TIDAK. Apa perlu orang lain melihat saat kamu sedang menghamba di hadapan altar? TIDAK. Apa perlu orang lain melihat saat kamu sedang menyembah di pura? TIDAK. Tidak perlu orang lain melihat. Karena tanpa mereka melihat pun, kamu dapat menemukan Tuhan. Malah secara intim. Malah secara pribadi. Jam pribadi bersama Tuhan itu jam2 yang sangat luar biasa lho. Siapa yang bisa (atau pernah) mendapatkannya, pasti tahu kenapa saya tersenyum bahagia. :)

Maka sekali lagi. Tolong tidak usah nyinyir ke saya kalau saya tidak beribadah (seperti yang kamu inginkan). Saat saya beribadah dengan terpaksa, saya merasa bersalah karena sudah munafik terhadap Tuhan. Dan perasaan bersalah itu lbh kuat dibanding perasaan bersalah saya karena kamu menghakimi saya. :) Oh, dan tidak kah kamu sedih saat kamu menyuruh seseorang beribadah dan org itu melaksanakannya dengan terpaksa dan itu, dengan kata lain, menganggap enteng Tuhan yang kamu elu2kan? Seharusnya si kamu sedih. Maka jangan paksa orang untuk beribadah seperti cara kamu beribadah. :) Jika ia bertanya, ajari dengan kesungguhan hati. Jika ia tidak melakukannya, itu urusan ia dengan Tuhan. Bukan urusanmu. :)

Hanya Tuhan yang bisa menghakimi manusia, dan bahkan, Tuhan tidak pernah melakukannya.

Sekarang coba tanya pada dirimu sendiri..

Apa aku sudah punya Tuhan dalam hatiku?

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Senyum dulu ah..

Feb 11, 2011

Cincin dan Ihram..Ga Nyambung..

Jatucinta dari awal melihat..


Cincin baru saya. Burung dan Ular. Menurut penjualnya si itu naga, menurut saya si tetap ular. Hehehe. Saat mereka datang (dan terjatuh karena saya terlalu semangat membuka paketnya), saya terlonjak bahagia. Uta juga. Kalau Uta, bahagia karena cincin2 ini dibungkus dengan bubble wrap. Jadi kini ia punya mainan baru lagi. Meletekkin bubble wrap. Hihihi.

Penjual cincin ini baik sekali. Dari awal saya sms, memang lama membalasnya (mengingat saya sms pertama kali tengah malam karena insomnia, wajar lah kalau dibalasnya paginya ya..hihihi), ia sudah sangat ramah. Saya lama mentransfernya pun tidak diburu-buru. Sesaat setelah transfer, saya mengabari, lama juga dibalasnya (tapi tdk apa, karena memang sudah bbrp kali sms-an dan lama membalasnya, sepertinya mbaknya tdk hanya berjualan, mungkin juga bekerja, sehingga ga bs bls sms saat sdg bekerja), tapi saat dibalas, diberitahu paket akan langsung dikirim keesokan harinya. Dan paket sampai tepat waktu. Mbak penjual jg sms menanyakan apakah paket sudah datang. Atensinya luar biasa. Dan saat paket datang, saya menemukan ini di dalamnya. Kecil, namun berkesan. :) Makasi ya mbak. :)

Sweet!! :)
Silahkan untuk yang tertarik juga, bisa lihat koleksi mbaknya di Jarah Monggo O-Store (Facebook)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Baju Ihram ala Uta..


"Ibu mau ke Mekkah?" tanya Uta suatu sore. "Iya" jawab saya. 
"Uta mau lihat donk di Mekkah, Ibu."
"Yuk, ketik M E K K A H." Lalu mengetik sambil menghapal huruf
"Nah, ini voto2 di Mekkah."
"Itu pake apa itu, Bu?"
"Namanya baju Ihram."
"Uta juga punya.." Lari ke dekat kamar mandi. Memakai handuk. "Uta siap ke Mekkah!!"

Hehehehe..Iya deh iyaaaa..


Magnifier..Metippayer..


"Uta punya ini, Ibu."
"Apa itu?"
"Kaca pensil.."

*melihat sekilas*

"Oh, magnifier.."
"Iya, metippayer"

"JIAAAHHH!!!"

Senyum dulu ah..

Feb 9, 2011

Genuine Leather = Aman??


Seperti yang saya katakan pada teman saya, this is just a glimpse of thought. Maka mari dimulai saja. Jangan dihakimi donk saya, karena yang boleh menghakimi hanya Tuhan dan yang bisa menghakimi hanya FPI.. *eaaa.. *hush hush!!

Siang ini, saya dihubungi teman saya, Tamie, via Twitter. Ia ingin menawarkan apa saya mau memasukkan produk saya ke jurnal tempat ia bekerja karena di edisi yang akan datang, ia akan membahas tentang Produk Kulit yang Aman bagi Lingkungan. JRENG!! Saya bengong. Hmmm. How to say it ya?

Saya mengakui saya memang memakai produk kulit asli pada brand saya yang Indira Soetrisno. Koleksi pertama saya memakai kulit ular, koleksi kedua nanti saya memakai kulit sapi. Dan saya pernah menulis tentang ini di blog saya terdahulu. Kalau ingin membacanya, monggo lho klik AHA! ini. :) Saya sudah membekali diri saya tentang pengetahuan penyamakkan kulit dan saya termasuk yang cerewet menanyakan ini itu pada supplier saya (yang adalah langsung penyamak, bukan hanya penjual) untuk meyakinkan diri saya bahwa kulit yang saya beli adalah legal. Sesuai dengan hukum. Tetapi saat Tamie mengemukakan produk kulit yang aman bagi lingkungan, saya perlu beberapa menit untuk mencernanya. Emang ada ya produk kulit yang aman bagi lingkungan? Sepertinya ada kata yang tidak sesuai di sini. Hmm.

Menurut saya pribadi, TIDAK ADA PRODUK KULIT YANG AMAN BAGI LINGKUNGAN. Titik. Saya tidak pernah mengatakan produk kulit saya aman bagi lingkungan, saya hanya pernah mengatakan bahwa kulit yang saya pakai untuk produk saya telah diproses mengikuti prosedur yang sesuai dengan standar yang dibuat pemerintah. Standar yang dibuat pemerintah, saya meyakini, adalah standar yang sudah sesuai sehingga tidak terlalu merusak lingkungan. Garisbawahi: tidak terlalu. Dampak negatif, pasti ada. Tapi sudah masuk dalam perhitungan. Perhitungannya seperti apa? Maka ijinkan saya mengumpulkan uang dl sehingga saya bisa ke Sumatra untuk udek2 surat standar pengolahan kulit yang dimiliki supplier saya. Hehe.

Tapi, pemikiran ini sedikit mengusik saya lagi. Saya memang bukan aktivis lingkungan, tapi saya selalu berusaha untuk meminimalisir kerusakan lingkungan, setidaknya dimulai dari diri saya sendiri. Maka saya jadi kembali mempertanyakan diri saya. Bulan, kalo elo tau kulit itu tdk aman bagi lingkungan, knapa masih loe pake?? Nah respon dari pertanyaan barusan adalah munculnya pertanyaan lain di benak saya, jadi kalau kulit hewan itu tdk disamak dan dibuat produk komersil, akan diapakan kulit itu? Setahu saya, kulit sapi dan kambing itu tdk masuk dalam tentengan bagi yang kurang berpunya saat Idul Adha, jadi kulitnya untuk apa donk? Dibuang? Mubazir donk. Dan bukankah membuang kulit itu juga mencemari lingkungan?

Maka sesampainya di rumah, saya menghubungi teman berbagi saya, Silka. Kalimat pertama saya adalah, "Silka, enlighten me.." Hehehe. Dan mulailah perburuan informasi tentang ini oleh saya dan Silka. Beberapa info yang saya dapat adalah:

Bahwa kulit hewan itu memang dianggap limbah. Ini dikemukakan Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet daerah Garut. Dan memang kulit2 hewan ini dijual kepada penyamak. Nah jika limbah, maka alangkah baiknya jika bisa dinaikkan nilai jualnya. Caranya adalah dengan menyamak kulit itu sehingga menjadi bahan baku siap pakai untuk kemudian dibuat menjadi sepatu, tas, dompet, dll.

Lalu, ini adalah kutipan yang diambil Silka (jg dr internet)..

"The manufacture of leather does  have an environmental impact, in as much as in the manufacturing process not all the inputs end up in the leather. Also when leather is disposed of the product becomes a waste material. What seems to have happened is that the gauge of leather's "econess" is measured by the absence of certain restricted chemicals, such as banned azo dyes, PCP, Chrome VI, formaldehyde and an increasing list specified by brands, or the method of tannage rather than any consideration of the real environmental impact.

In the strict verbal sense of the definition, the term "eco leather" has no formal meaning. However, there is significant interest in leathers that imply improved environmental performance."

Membaca itu, maka saya langsung bbm supplier saya untuk menanyakan apakah memakai bahan2 kimia yang disebutkan di atas, dijawab hanya satu dari tiga itu yang dipakai yaitu formaldehyde. Saya tanya apakah pemakaian formaldehyde itu tdk bs diganti? Dijawabnya tdk bs karena hanya bahan kimia itu yang dijual di Indonesia (yang dpt digunakan untuk penyamakan). Lebih lanjut, supplier saya mengatakan bahwa pemakaiannya masih dalam tingkat normal sesuai dengan standar pemerintah. Oh, saya lega. Hehehe.

Jadi sekali lagi, pendapat saya adalah TIDAK ADA PRODUK KULIT YANG SEPENUHNYA AMAN BAGI LINGKUNGAN (dalam proses produksinya). Keseluruhan proses penyamakan kulit menjadi bahan baku industri memang meninggalkan sisa sampah yang dapat membahayakan lingkungan. Tapi dengan ketepatan proses produksi, maka sisa sampah itu dapat diminimalisir sehingga TIDAK TERLALU merusak lingkungan. Demikian Tamie. Demikian teman2. :)

Jadi saya masih boleh donk pake bahan baku kulit untuk produk saya. Perbandingannya, produk kulit yang saya pakai hanya 20% dr keseluruhan penjualan kok, 80%-nya (produk Moonaddict), memakai pleathers --> plastic leathers A.K.A kulit sintetis. Hehehe. Boleh donk boleh donk boleh donk (deh sih loh kok ah..) :)

Senyum dulu ah.. :)

Feb 7, 2011

..Cecurut..

Hehehe..Sudah malam, tapi saya niat banget ni mau bagi ini. Hehehe.

Belum lama, saya mendengar kresek2 dr arah tempat sampah. Tak dinyana tak diduga, ternyata cecurut lah yang sedang beraksi. Saya diam di kursi. Mengangkat kaki. Hihihi. Melihat saja dr jauh sementara sang cecurut masih asyik masyuk dengan mainannya.

Tak lama, papa berkata, "Cecurut itu ngga papa..Itu malah makanin nyamuk.." Dan saya bengong. Eh, apa iya?? Gmn cara makannya? Punya lidah panjang? Kayaknya tidak. Hmm.

Maka tangan ini bergerak. Mencari lewat internet. Mencari cecurut. Oh sungguh ngga HITZ berat ni malam. Hehehe. *efek ga jadi masukkin dakron ke dalam bantal krn malas hrs duduk di lantai takut cecurut pengen ikutan* --> CARI ALESAN!!

Maka saya akan mengemukakan beberapa fakta tentang cecurut yang br saya tahu malam ini. Yes. Malam ini. Hihi.

1. Cecurut itu hewan dengan penglihatan minim. Malah hampir buta. --> No wonder barusan saya ngakak banget karena liat tu cecurut lari ke kanan, nabrak tembok, ngesot, trus balik lg ke tempatnya semula. Haha.

2. Menurut internet, hewan ini memakan apa yang ada di lantai atau tanah. Maka bisa menjadi hewan pembersih. --> Errr..menurut saya, sayang aja dia ga bs ikut aturan yang saya terapkan ke Uta "Setelah main, rapikan!! Setelah makan, taruh piring di ruang cuci!!" Jadi bekas si cecurut makan kulit salak masih tercecer tuh. GA VALID!!

3. Hewan ini tdk diketahui dmn sarangnya dan tdk diketahui kapan matinya. --> Oh, memang tdk ada yg tahu kapan kematian akan menyapa. Saya pun begitu. Saya merasa senasip dengan cecurut dalam hal ini.

4. Menurut adat Jawa, (masih menurut internet), jika ada cecurut di dalam rumah, rumah itu artinya penuh berkah dan yang tinggal di rumah itu rajin mengaji. --> Oh walaupun saya ga rajin mengaji, tapi bolehlah kita anggap benar pendapat ini. VALID!!

5. Cecurut memakan insektivora bertubuh kecil. --> Langsung caritau apakah nyamuk masuk dalam insektivora. --> Hasilnya: (dari wikipedia) Binatang yang dimaksud adalah serangga seperti lalat, semut, hingga anak kodok. --> Kesimpulan1: loh kok nyamuk ga ditulis..Jd bgmn ini?? Masuk insektivora kah nyamuk? --> Kesimpulan dari Kesimpulan1: Terdapat tulisan "Artikel ini perlu di-wikifikasi." Jadi yaudalah ya, wikipedia aja belum pasti. Hihi.

6. Cecurut memiliki variasi yang cukup tinggi dalam ukuran dan warna --> Too bad I haven't seen the yellow one(s). Yellow is the new black for 2011, you know.. *melengos pergi *cari curut kuning

7. Ini yang paling HITZ: Lukisan kartun keluarga cecurut yang berpindah tempat, karya Edward Hamilton Aitken, kartunis abad 19, menandakan adanya hubungan cecurut dengan manusia. --> Ooooh..Unyuuuu... *speechless *pengsan

Demikianlah PTM (pengetahuan tambahan malam) atau dikenal juga dengan PTMMPDBLL (pengetahuan tambahan malam-malam perlu dibaca buat lucu-lucuan) dari saya kali ini. Tunggu saya di PTMMPDBLL selanjutnya!! Salam super!!

Senyum dulu ah.. :)

Feb 3, 2011

SM*SH..I know you so weeeelll...

Haha. Saya jd tertawa sendiri membaca judul post saya kali ini. Hehehe.

Di saat pagi ini, 3 Februari 2011, 04.07 pagi, insomnia menyerang dan beberapa hal kampret mengikuti, saya akhirnya bangun dan memutuskan untuk kembali menjahit bantal dan online. Ketika sudah mulai bosan, AHA, saya ingat saran teman saya Thariq kmrn ketika saya lg bete dan dia menganjurkan saya melihat video klipnya SM*SH. Maka di sini lah saya, membuka Youtube dan mengetik SM*SH di kolom pencarian. Hahaha.

Sejujurnya, walaupun saya dan teman2 sudah sering menggunakan nada "You know me so weeeellll" atau "I know you so weeelll" ketika berbicara, tetapi saya belum pernah melihat  video klip maupun SM*SH-nya sendiri di TV. Jadi ini kali pertama saya. Dan saat saya melihat video klip versi penuh mereka di Youtube, saya terperangah.

HEY!!! Mereka keren yaaaaa. Hehehe. Cakep2 lagi. Sluurp!! Yang muda yang bergaya. Seger!! *joget2*

Suaranya bagus (entah di cover atau tdk saya tdk peduli, pokoknya yang saya dengar si bagus.. :)), narinya juga ok walaupun menurut saya positioningnya kurang bagus. And despite all the nyinyir comments on the video, I have to admit I like them!! Ya biarkan saja org mau berbicara apa, mereka hanya iri karena mereka tdk bs menari sebaik kalian SM*SH. Hehehe. *sign in di SM*SH grupis ni bentar lagi*

Dan ketika saya melihat video klip SM*SH ini, video yang berhubungan di sebelah kiri ada yang menganjurkan SM*SH I Heart You Corner Paradise Version. Dan saya sempat berpikir "HAH, jd persis plek ngikutin boyband luar ni???" dan saya klik. Dan saya semakin ketawa ngakak. Hahaha. Ternyata Corner Paradise adalah grup parodi Indonesia yang membuat cover version untuk SM*SH. Hahaha. Dan karena mereka jujur bahwa mereka adalah grup parodi, jd hasilnya memang lucu yang sangat slapstick dan berhasil membuat saya ngakak keras pagi buta ini. Hahaha.


Oh, pagi yang indah.
Dan semakin indah karena hr ini libur. :)
Ahoy!!

Senyum dulu ah..

*lanjut jait ditemenin SM*SH..you know me so weeeelllll..girl i need you..girl i want you.. *gedek2